Cara Mengetahui Nama Distro Linux yang Anda Gunakan berikut Versi nya.

Linux punya berbagai macam distro yang jumlahnya sangat banyak dengan tujuan penciptaannya yang berbeda-beda. Untuk mengetahui distro apa dan versi berapa dari Linux yang Anda gunakan, silahkan simak artikel ini..

Ada beberapa cara melihat versi Linux melalui Terminal, salah satunya yang termudah dan paling sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan mengetikkan command berikut :

cat /etc/issue

maka akan tampil sebaris informasi dibawahnya, seperti ini :

0001

Untuk menampilkan informasi lebih lanjut, dapat menggunakan perintah yang berbeda, meskipun mungkin tidak bekerja pada setiap distro, tapi pasti bekerja pada distro-distro yang populer. caranya ketik command :

cat /etc/*release

Akan tampil informasi yang lebih detail, tidak hanya informasi rilis, tetapi juga codename. Beberapa distro bahkan menampilkan URL untuk Home, Support, dan Bug Report nya.

0002

di Ubuntu sendiri sebenarnya perintahnya adalah cat /etc/os-release, namun pada distro lain mungkin berbeda, misal : di Redhat, mungkin menggunakan cat /etc/redhat-release. Tanda * itu sebenernya menandakan request [all] untuk semua distro, dan informasi yang ditampilkan adalah, tentu saja, tentang distro yang sedang dipakai di komputer kita.

Nah, selain cara di atas, khusus untuk Ubuntu ada command lain yang bisa digunakan untuk melihat Version nya. yaitu :

lsb_release -r  ————–> *(untuk melihat informasi rilis)

lsb_release -d ————–> *(untuk melihat Deskripsi nya)

lsb_release -c ————–> *(untuk menampilkan codename nya)

lsb_release -a ————–> *(untuk melihat info secara keseluruhan)

Cara Melihat Versi Kernel

Versi distribusi yang kita jalankan berbeda dari versi kernel Linux. Anda dapat dengan mudah melihat versi kernel dengan command :

uname -r 

ini akan menghasilkan output :
*(contoh di komputer saya)

0003

berarti versi kernel yang saya gunakan adalah 3.11.0.

Sedangkan untuk melihat semua informasi kernel, ketik command :

uname -a

Anda akan mengetahui komputer menjalankan versi x86 atau x64. Di kompie saya versi x86, yang berarti 32-bit.

0004

Untuk melihat versi yang lebih tepat, Anda dapat menggunakan command uname -i.
Silahkan dicoba 🙂

 

Iklan

DR ‘AIDH AL-QARNI : KUNCI SURGA ITU MILIK ALLAH, BUKAN DI TANGAN MANUSIA

Saya baru tahu kalo ternyata artikel dengan judul di atas sudah beredar lama di jagat maya sejak kunjungan Syaikh Dr. ‘Aidh Al Qarni di acara Jakarta IBF satu dasawarsa silam. Awalnya ada seorang rekan diskusi di group whatsapp Taushiyah Fortima yang mem-broadcast artikel yang ditulis Pak Mansyur ini. Tidak seluruhnya, hanya beberapa potong paragraf saja yang di BC, akan tetapi isi tulisan tersebut sangat menakjubkan bagi saya karena berisi nasihat-nasihat teduh, penuh makna, dan pesan yang dalam kepada segenap umat muslim di Indonesia. Selesai membacanya, mengusik perhatian saya untuk mencari tahu sumber tulisan versi lengkapnya.

Dan Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan link url dari blog yang memuat artikel tersebut. Berikut isi lengkap dari artikel itu :

Syeikh Al-Qarni berkunjung ke Jakarta dalam rangkaian acara Jakarta Islamic Book Fair. Beliau didatangkan khusus oleh penerbit Qishti Press, yang menerbitkan buku super best seller karyanya “LA TAHZAN” dan “Menjadi Wanita Paling Bahagia.” Selain bertemu dengan para pembaca nya di Islamic Bookfair, Syeikh Al-Qarni juga menyempatkan diri bersilaturahmi dengan umat Islam di beberapa masjid di ibukota.

 

Syeikh Al Qarni sangat prihatin dengan berkembangnya budaya menghujat dan mencaci maki ulama dan gerakan Islam saat ini, yang dilakukan sementara kalangan. Bahkan dirinya juga sering menjadi korban celaan dan fitnah seperti itu di negaranya, antara lain dituduh sebagai khawarij dan murji’ah.

“Kenapa kita tidak sibuk memperbaiki diri kita sendiri, dan baru kemudian berusaha memperbaiki orang lain? Kenapa kita sibuk mengumpulkan kesalahan-kesalahan para du’at (da’i) lalu kemudian mengekspos nya di berbagai media, ceramah, dan buku? Padahal Rasulullah saw.  dalam sebuah hadits hasan mengatakan, “Beruntunglah orang yang menyibukkan diri dengan mengetahui dan memperbaiki aib-aibnya sendiri.”

Sahabat Abu Darda ra. juga pernah mengatakan: “Kalian menghisab orang lain seolah-olah kalian adalah para Tuhan! Padahal kalian adalah hamba-hamba dan manusia biasa.”
Masalah ini cukup mendominasi presentasi Syeikh Al-Qarni, terutama dalam jawaban beliau saat tanya jawab. Selain soal diatas, Syekh al-Qarni juga secara singkat berbicara  tentang isu karikatur Rasulullah saw., bom syahid, terorisme, dan adab menasehati penguasa.

Dalam presentasinya, Syeikh Al Qarni secara garis besar menyampaikan 3 (tiga) amanat:

“Pertama:
 Kita memiliki kewajiban untuk memberi pemahaman yang benar kepada manusia tentang agama Islam. Di tengah jumlah penduduk yang 210 juta jumlahnya di Indonesia ini, kami lihat masih begitu banyak kejahilan dan ketidakpahaman terhadap Islam. Ditambah lagi Islam disini telah banyak mengalami pengaburan. Karena itu kita punya kewajiban untuk memberi pemahaman Islam yang benar kepada mereka.

Kedua: Jangan sampai kita disibukkan dengan saling bantah satu sama lain, saling menyerang satu jamaah dengan jamaah yang lain, karena itu akan menyebabkan kita terhalangi untuk menyampaikan risalah Al-Islam yang sesungguhnya, yang diturunkan untuk seluruh umat manusia di bumi ini. Mengapa kita menghabiskan usia dan waktu kita dengan usaha-usaha saling menjatuhkan satu sama lain, padahal dunia sedang menunggu kita menyampaikan risalah Islam yang sesungguhnya.

 

Syeikh Abdul Aziz bin Baz sendiri sudah memberikan nasihat dan fatwa bagi kita agar tidak menyibukkan diri kita dengan menyingkap-nyingkap aib saudara sesama kaum muslimin. Beliau menasihatkan kita untuk membuat manusia mencintai Islam ini dengan cara mengindarkan diri dari kebiasaan-kebiasaan semacam itu.

Ketiga:  Kita harus mewujudkan persatuan kaum muslimin, karena kita sesungguhnya adalah umat yang satu. Kenapa umat muslimin yang ada di Jakarta tidak bisa bersatu dengan kaum muslimin yang ada di Mauritania? Padahal sekarang orang-orang kafir, musuh-musuh Allah SWT sedang bersatu untuk menjatuhkan kaum muslimin. Saya pernah mengunjungi Amerika dan saya lihat bahwa sesungguhnya dalam diri mereka itu berpecah-belah, tapi saat memerangi Islam mereka bersatu padu.”


*****

 

Berikut ini transkrip panjang ceramah dan tanya jawab Syekh Al-Qarni setelah edit bahasa. Agar lebih mudah diikuti, penyajian transkrip ini dilakukan per masalah (item). Transkrip dan edit ini dilakukan oleh: Mansyur Alkatiri (Balitbang PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah).

Pembukaan:

Kita bertemu malam ini bukan karena keturunan atau interest-interest lain, tapi hanya karena ikatan kalimat laa ilaaha illallah, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Saudara-saudara kita di Saudi Arabia menyampaikan salam pada Antum semua, kaum muslimin Indonesia. Dari khadimul haramaian asy-syarifain, para ulama, dan dari berbagai pihak yang terus bekerja dan bergerak di bidang dakwah Islam. Mereka sangat memuji Anda sekalian sebagai bangsa yang besar, sebagai sebuah bangsa yang mempunyai akhlak dan perilaku yang mengagumkan.

Kami sampaikan apresiasi dan terima kasih yang luar biasa karena Antum telah membantu menyebarluaskan kitab LA TAHZAN – Jangan Bersedih, meski sebetulnya Antum di Indonesia ini sebenarnya tidak perlu bersedih karena Antum punya tiga hal yang sangat menguntungkan, yaitu: Air yang sangat banyak, pemandangan yang sangat hijau, dan wajah yang berseri-seri menyenangkan. Kami berharap, sandainya memungkinkan air-air ini dan pemandangan hijau itu bisa juga dipindahkan ke Arab Saudi. Meskipun itu tidak mungkin dilakukan, tapi Insya Allah mudah-mudahan Allah mempertemukan kita di Surga Firdaus.

*****

Tentang Jamaah-Jamaah Islam:

Saya hamba yang fakir ini, secara pribadi tidak berafiliasi ke salah satu jamaah manapun. Saya bukanlah seorang tablighi, atau ikhwani, atau anggota hizbut tahrir dan semacamnya. Saya ingin menyampaikan pelajaran yang saya peroleh dari interaksi saya dengan para ulama, terutama dengan Syekh Abdul Aziz bin Baz, Muhammad Sholeh al-Utsaimin, dan Syekh Nashiruddin al-Albani rahimahumullah jamii’an. Mereka semua menasehati kami, bahwa hendaknya yang menjadi titik tolak pergerakan kita ini adalah kembali kepada ajaran Allah Subhanany Wa Ta’ala yang sesungguhnya.

Saya adalah orang yang tidak setuju dan melawan segala bentuk TASYHIR atau penggembor-gemboran kejelekan dan kesalahan jamaah-jamaah Islam itu. Kita harus mengakui bahwa jamaah-jamaah Islam yang ada itu semuanya telah berijtihad, telah berusaha sungguh-sungguh untuk menyampaikan agama Allah SWT.
Jamaah Ikhwanul Muslimin dan Jamaah Tabligh telah melakukan perjuangan dan dakwah dengan cara yang mereka anggap sebagai cara yang benar. Syeikh Al Abdul Aziz bin Baz telah bertemu dengan beberapa dari mereka, seperti Muhammad Quthb (Mesir), Syekh Az-Zindani (Yaman), dan lainnya. Dan Syekh Abdul Aziz bin Baz mengatakan bahwa mereka adalah IKHWAN kita semua, dan mereka (Jamaah Ikhwanul Muslimin) telah memberi manfaat yang sangat banyak pada kaum muslimin. Bahwa mereka punya kesalahan, kita semua juga punya kesalahan. Insya Allah kami akan mengingatkan mereka. Tidak ada manusia yang maksum. Kita semua bukan malaikat, jadi semua punya kesalahan. Hanya Rasulullah saw. manusia yang maksum.

Beliau (Syekh Bin Baz) mengingatkan kita agar jangan menyibukkan diri dengan kesalahan-kesalahan itu, dengan mengekspose kesalahan atau kekeliruan mereka, lalu kita dengan sengaja meninggalkan musuh-musuh Allah yang sudah nyata, dari kaum Nasrani dan Yahudi, yang berusaha menyerang dan menjatuhkan kaum muslimin.

Dimana kita meletakkan akal sehat kita? Kenapa kita tidak mengambil manfaat dan kebaikan dari sisi-sisi baik jamaah-jamaah yang ada itu, dan kemudian menyampaikan nasehat dan meluruskan kesalahan mereka?

Jamaah Tabligh telah menyampaikan Islam ke berbagai belahan dunia, sampai ke Kanada, Australia, bahkan ke Cina, dan banyak wilayah dunia lainnya. Ikhwanul Muslimin juga seperti itu, dan seperti kita tahu di Turki dan Hamas Palestina yang kini dikaruniai Allah.

Kenapa kita tidak sibuk memperbaiki diri kita sendiri, lalu kita kemudian baru berusaha memperbaiki orang lain? Kenapa kita sibuk mengumpulkan kesalahan-kesalahan para du’at lalu kemudian mengekspos nya di berbagai media. Dalam sebuah hadits yang di HASAN kan oleh sebagian besar ulama hadits, Rasulullah saw. mengatakan yang artinya:“Beruntunglah orang yang menyibukkan diri dengan mengetahui dan memperbaiki aib-aib nya sendiri.”

Sahabat Abu Darda pernah mengatakan: “Kalian menghisab orang lain seolah-olah kalian adalah para Tuhan! Padahal kalian adalah hamba-hamba, manusia biasa.”

Saya adalah seorang tolabul ilmi yang kecil, belum sampai pada derajat ulama-ulama besar. Di Arab Saudi saya dengan beberapa teman mendapatkan tuduhan dari sementara orang sebagai pelaku bid’ah, sang khawarij, dan sebagainya. Lalu saya pergi bersama beberapa teman menemui Syekh Abdul Aziz bin Baz dan menyampaikan hal itu. Syekh bin Baz mengatakan, hendaklah kita menghisab mereka dengan sebaik-baiknya. Janganlah kita kembalikan omongan mereka sebagaimana mereka ngomong. Cukup dengan bahasa yang lemah lembut. “Tulislah berbagai syair sebagai balasan atas omongan mereka. Insya Allah mereka mendapat hidayah dari Allah SWT,” kata Bin Baz.

Dan beliau (Syeikh bin Baz) juga mengatakan, saya bisa saja melakukan kesalahan. Dan saya tumbuh, besar, dan berkembang di sebuah negara yang dipenuhi dengan para ulama, dimana setiap ada satu kesalahan yang disampaikan pasti akan diberikan peringatan oleh para ulama besar. Beliau juga mengatakan, dirinya akan sangat berterima kasih bila ada seseorang yang memberikan nasihat kepadanya. Dalam salah satu ceramah di Jeddah, beliau mengatakan: “Ada seseorang  yang memberi catatan yang meluruskan kesalahan saya waktu saya menyampaikan satu bait syair. Dan saya menyampaikan rasa terima kasih pada orang yang meluruskan itu.”

Alhamdulilah, kunci surga itu adalah milik Allah SWT dan bukan milik seorang manusia pun. Kita tdk perlu pusing, tdk perlu khawatir, karena kalau kunci surga itu berada di tangan salah seorang manusia maka mungkin dia hanya mengizinkan jamaah nya saja, kelompoknya saja, untuk masuk ke dalam sorga.

Surga itu punya 8 (delapan) pintu, dan satu pintu saja lebarnya seperti antara Al Quds sampai San’a, ribuan mil jaraknya. Bagaimana seseorang bisa mengatakan hanya kelompoknya saja dengan jumlah yang terbatas yang bisa masuk ke dalam surga?Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an:  “Hamba-hamba Allah SWT itu secara umum terbagi tiga kelompok: Ada yang dzolim terhadap dirinya sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang mendahului dalam melakukan kebaikan (tsabit bil khoirot). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, bahwa ketiga kelompok ini akan masuk surga ke dalam surga Allah SWT.

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. mengisahkan, ada seseorang yang membunuh 100 orang. Dia
kemudian mati, lalu Allah SWT memasukkan dia ke dalam surga. Subhanallah! Kenapa kita bisa memvonis orang yang terbunuh di jalan Allah SWT, orang yang telah jelas-jelas terbunuh dalam memperjuangkan agama Allah SWT? Ya, mungkin saja dia punya sedikit kesalahan, tapi dia mati karena memperjuangkan agama Allah SWT! Kenapa Allah SWT bisa memasukkan seorang pembunuh 100 orang ke dalam surga lalu Allah tidak memasukkan orang yang terbunuh di jalan Allah ke dalam surga?

Saya tidak menyujui kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para du’at itu. Ada kesalahan yang kita temukan dalam tulisan-tulisan mereka, dalam buku-buku mereka. Dan lucunya ada orang yang membaca tulisan saya dan mendengarkan ceramah saya kemudian dia mengatakan saya adalah seorang khawarij. Pada kali yang lain dia menemukan kesalahan saya lalu dia mengatakan saya nashibi. Di kali yang lain dia menemukan kesalahan saya lalu mengatakan saya murji’i (penganut murjiah). Ini tidak mungkin! Pada saat yang sama disebut seorang khawarij dan murjiahkarena pada dasarnya mazhab khawarij dan murjiah ini adalah mazhab yang saling bertentangan, tidak mungkin bersatu.

Intinya, kita tidak meyakini ada manusia yang maksum selain dari Rasululullah saw. Kita tetap punya kewajiban memberi peringatan dan nasehat terhadap kesalahan-kesalahan yang terjadi. Tentu dengan cara yang terbaik sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an: “berdakwalah ke jalan Allah Tuhan mu dengan jalan hikmah, nasehat yang baik (mau’idzotil hasanah)!” Jangan kita menggembor-gemborkan kesalahan itu, lalu menyebarluaskannya. Tapi dengan nasehat yang baik.

Ada sebuah kisah yang dialami oleh seorang dai di Riyadh, bernama Syekh Abdul Aziz al-Mughim. Beliau menceritakan, ada seorang tolabul ilm yang baru mulai belajar, tapi yang selalu menjadi perhatiannya hanyalah mengumpulkan kesalahan-kesalahan para du’at. Sampai pada akhirnya suatu ketika Allah menakdirkan syeikh ini mengunjungi desa asal anak muda tersebut. Ternyata di desa itu syekh ini bertemu dengan orang tua anak tersebut, dan ternyata orang tua anak ini mengadukan kepada syeikh bahwa anaknya ini luar biasa durhakanya kepada dia. Syekh Abdul Aziz mengatakan: “Subhanallah! Bagaimana dia bisa sibuk mengumpulkan kesalahan-kesalahan para du’at dan di saat yang sama dia melakukan dosa terbesar kedua setelah syirik kepada Allah SWT, yaitu Durhaka kepada kedua orangtuanya.”

Ada satu kisah. Penduduk Irak pada suatu waktu menunaikan ibadah haji. Lalu pada saat akan melempar jumroh salah seorang dari mereka melihat ada seekor lalat yang terbang dan membunuh lalat itu. Apa yang dilakukan mereka? Mereka kemudian datang menemui sahabat Abdullah bin Umar ra. dan bertanya: “Salah seorang dari kami membunuh seekor lalat pada saat menunaikan ibadah haji. Kira-kira apakah dia harus membayar denda memotong kambing atau membayar dam?”

Ibnu Umar heran dan bertanya, “Dari mana kalian?”
Mereka jawab, “Kami datang dari Irak!”
Lalu Ibnu Umar menjawab, “Subhanallah! Kalian telah menyembelih Husein radliallahu ta’ala ‘anhu, dan tidak pernah menanyakan apa yang harus dilakukan. Tapi pada saat membunuh seekor lalat kalian bertanya.”

Masya Allah! Ini wara’ yg tidak pada tempatnya.

*****

 

Tentang Isu Mundur Dari Dakwah:

Kami pernah membaca sebuah majalah di Indonesia yang menyebutkan bahwa saya ingin meninggalkan dunia dakwah dengan salah satu alasannya adalah bahwa masjid-masjid di Saudi sudah dijadikan sebagai ajang untuk memerangi apa yang disebut dengan terorisme.

(Lalu Syekh Al-Qarni memberi klarifikasi):

  1. Meninggalkan dunia dakwah tidak dibenarkan bagi setiap muslim, hukumnya haram.
    2. Saya sendiri sudah menulis syair, dan di dalam syair itu saya tidak sekalipun menyebutkan bahwa saya akan mundur dari dunia dakwah.
    3. Tolabul ilmseperti saya ini, setelah Allah memuliakan saya dengan dakwah ini tidak mungkin meninggalkan medan dakwah yang telah banyak memberikan kemuliaan di sisi Allah SWT ini.

Adapun isu terorisme, saya ingin memberi kabar gembira. Mayoritas kaum muslimin di Saudi Arabia berada di jalan pertengahan, di jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Adapun orang-orang yang mengusung paham TAKFIR, ide-ide khawarij, itu jumlahnya sangat sedikit. Dan para ulama, masyayekh, yang sekarang ada di dalam penjara juga sudah 85% merujuk pada pandangan-pandangan awal sebelumnya, dan mereka pun mulai dibebaskan satu persatu. Kita tidak perlu pesimis dengan kondisi yang ada di Arab Saudi sekarang.

*****

 

Soal jihad dan bom bunuh diri di Palestina dan Iraq:

Hukum bom bunuh diri ini berbeda antara satu negara dengan negara lain. Palestina misalnya berbeda hukumnya dengan negara lain karena disana jihad telah terjadi antara kaum muslimin dan orang-orang Yahudi. Para ulama juga sudah membuat fatwa. Kaum Yahudi disana membunuh kaum muslimin, wanita dan anak-anak, membombardir rumah-rumah kaum muslimin dan mengusir mereka, dan para ulama mempunyai fatwa-fatwa khusus terkait dengan masalah itu.

Seperti misalnya bom bunuh diri yang banyak dilakukan oleh pemuda-pemuda Palestina, banyak diantara ulama yang memandang itu sebagai bom syahid atau bom istisyhad. Saya berharap arwah mereka diterima di sisi Allah SWT sebagai para syuhada.

Adapun terkait dengan Irak, persoalannya berbeda dengan Palestina. Di Irak kita belum bisa memastikan dengan jelas bahwa Amerika benar-benar menguasai disana. Sebab yang terjadi disana adalah fitnah yang sangat besar, bahkan diantara sesama kaum muslimin sendiri. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Irak ini sangat tidak jelas, karena itu waktu saya ditanya apakah boleh berjihad ke Irak saya katakan: “Saya tidak menasehatkan untuk pergi berjihad ke Irak. Karena disana kita tidak mengetahui siapa yang membunuh dan siapa yang dibunuh. Apakah yg membunuh itu Muslim atau bukan. Sampai panji jihad, pemimpin (qiyadah) jihad menjadi jelas, maka di saat itulah kita bisa mungkin menyarankan kaum muslimin untuk pergi kesana.

*****

Tentang Karikatur Penista Nabi:

Kami sampaikan rasa terima kasih secara khusus pada muslimin Indonesia terkait dengan reaksi positif muslimin Indonesia yang menyatakan protes, baik dalam bentuk demonstrasi maupun lainnya, menyikapi penghinaan terhadap Rasulullah saw. melalui karikatur. Kami sampaikan terima kasih secara khusus kepada Antum karena telah membela Rasulullah saw. yang dimuliakan dan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT.

Kita kaum muslimin bukanlah para teroris! Para teroris sesungguhnya adalah mereka yang telah mengeruk, menghabiskan harta kekayaan kaum Muslimin. Para teroris sesungguhnya adalah mereka yang telah menyerang dan membunuh kaum muslimin di Afghanistan, Irak, Palestina, dan berbagai belahan bumi lainnya. Sekali lagi, kita ini bukanlah kaum TERORIS, karena kita diutus bersama Rasulullah saw. untuk memberi rahmat kepada alam semesta.

Kita bersyukur dengan reaksi yang ditunjukkan kaum muslimin di seluruh dunia terhadap peristiwa penghinaan atas Rasulullah saw. melalui karikatur. Pemerintah Saudi sendiri telah melakukan langkah-langkah yang sangat nyata terkait dengan masalah itu, antara lain dengan menarik duta besarnya di Denmark, dan juga gerakan boikot atas produk-produk Denmark, yang menyebabkan kerugian sampai 7 miliar dolar per hari.

Kita jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan dalam masalah ini. Kita jangan tergesa-gesa mengatakan ini sebagai awal dari Perang Salib atau yang semacamnya. Bisa saja itu yang akan terjadi, tapi kita hrus menyadari realitas kita kaum muslimin, jumlah kita sangat banyak tapi kita seperti yang dikatakan oleh Rasulullah saw. seperti buih di lautan.

Sekali lagi kami sampaikan rasa terima kasih yang besar terhadap kaum muslimin di Indonesia, seperti respon yang saya lihat di beberapa stasiun televisi. Tapi kami ingatkan kita untuk tidak berlebih-lebihan, apalagi menyakiti orang lain dan melakukan tindakan dholim. Karena Allah SWT sendiri di dalam Al-Qur’an ketika memerintahkan untuk berperang Allah menegaskan: “Beperanglah kalian, tapi janganlah kalian bersikap berlebih-lebihan.” Kami menekankan pentingnya pengajuan tuntutan-tuntutan yang bersifat resmi, dan itu adalah sesuatu yang sangat syar’i, dan sekali lagi kami tegaskan jangan sampai peristiwa ini membuat kita melakukan hal-hal yang bertentangan perintah Allah SWT.

*****

 

Adab memberikan nasihat kepada para penguasa:

Memberikan nasehat kepada penguasa harus dengan cara yang lemah lembut, dengan cara yang bijak, dengan cara yang hikmah. Kita ingat dengan kisah Nabi Musa as. dan Nabi Harun yang diperintahkan Allah untuk menyampaikan nasihat kepada Fir’aun, dan sampaikan lah nasehat dengan kalimat yang lemah lembut.

Sudah banyak terjadi upaya2 perlawanan terhadap pemerintah yg sifatnya frontal, yg dicoba oleh berbagai jamaah Islam tapi semuanya berakhir dng kegagalan, para pelakunya dimasukan ke penjara.

Apakah boleh kita menyebar-nyebarkan keburukan penguasa melalui mimbar-mimbar Jum’at dan media massa?

Itu bukan manhaj Islam, karena Nabi saw. sendiri ketika memberikan nasehat selalu mengatakan: “Kenapa ada orang yang melakukan seperti itu”, tanpa menyebutkan namanya atau menyebarluaskan.

Media massa seharusnya digunakan untuk memberikan nasihat-nasehat yang bijak, bukan digunakan untuk menyebarkan aib dan keburukan-keburukan orang. Sudah banyak jamaah yang melakukan cara seperti ini, tapi itu justeru menjadi sebab kegagalan proyek-proyek baik yang mereka lakukan.

Kami amat berharap,  jangan kita disibukkan oleh urusan-urusan politik. Memang Islam adalah agama dan negara pada saat yg sama, tapi jangan sampai kesibukan dan keseriusan orang dalam politik menyebabkan mereka meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, memalingkan kaum muslimin dari perhatian terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Apa boleh mengkafirkan penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah?

Takfir atau mengkafirkan penguasa adalah sesuatu yang harus ditanyakan dan dimintakan fatwanya kepada para ulama. Para du’at atau tolabul ilm bukanlah tempat untuk meminta fatwa dalam kasus-kasus seperti ini. Ada kisah, ketika ada orang mencela Al Hajjaj, seorang penguasa yang dzalim, Al Hasan al-Bashri rahimahllah ta’ala justeru mengatakan: “Jangan mencela Al Hajjaj, karena Al Hajjaj berkuasa atas kita disebabkan karena dosa-dosa yang telah kita lakukan!”

Ada satu kisah. Ketika saya bersama Syekh Bin Baz menunaikan ibadah haji, ada beberapa orang jamaah haji dari salah satu negara Arab yang datang menyampaikan kepada Syeikh Bin Baz tentang salah seorang penguasa denga nada mencela. Syekh Bin Baz lalu menyampaikan nasehat: “Ingat bahwa gara-gara dosa kalian pula maka penguasa itu kemudian menguasai kalian dengan kedzoliman!” Kami ingatkan, kalau kita ingin bertobat dan kembali pada Allah dengan sungguh-sungguh, insya Allah Allah akan menganugerahi kepada kita pemimpin yang adil, pemimpin yang mengasihi kita dan tidak mendzolimi kita.

sumber copas : blog hikmatun[dot]wordpress[dot]com 🙂

saya merasa perlu untuk memasukkan tulisan ini ke dalam blog, karena selain bermanfaat buat diri saya pribadi, juga tak mau kehilangan jejak bila suatu hari butuh membacanya lagi, tak perlu repot googling atau menghafal link url asal.

PENJAGA KAMAR MAYAT

Tiga bulan merasakan suasana beda di tempat kerjanya, Malik gelisah. Tak lagi tenang seperti dulu ketika TV masih berlayar tabung, tak seindah dulu saat bocah-bocah  masih punya lapangan bola gratis,  Pun tak seasyik  ketika harga BBM belum diutak-atik pemerintah. Kursi nyamannya saja kini mulai reyot, berdecit setiap kali ia bersandar. Apalagi sejak sinyal wi-fi hotspot Rumah Sakit melemah dan terus menghilang dari Wi-Fi panel di gadgetnya. Berharap signal 3G GSM ?  Entahlah, sejak dibully balik oleh para pengguna di Kota tempat ia tinggal, Operator selular yang dipakainya ini mulai redup. Kuning cerahnya memudar dan lalu mati tertindih pesaing. Anehnya, sinyal dari para kompetitor pun seperti enggan mampir ke ruang kerja Malik. Ia pun mulai tidak betah, dan ingin angkat kaki saja. Buat apa kerja jika satu-satunya hiburan online tak lagi bisa ia nikmati. Sebab bagaimanapun ia tetap butuh informasi terupdate Bursa Korban Meninggal di Group chatting yang ia ikuti.

Situasi ekonomi mulai sulit, meningkatnya angka pengangguran, bertambahnya jumlah pekerja yang diPHK atau yang Kontraknya tidak diperpanjang, dan makin beratnya tekanan kerja di tengah tuntutan Efisiensi yang diterapkan di banyak perusahaan saat ini, -atas imbas kebijakan pemerintah yang paling tidak popular-, membuat Malik berpikir dua-lima kali sebelum benar-benar memutuskan hengkang. Apatah lagi kini ia sudah beranak tiga dan semuanya masih kecil-kecil. Sempat menyesal menyuruh isterinya berhenti kerja di sebuah  perusahaan leasing kendaraan bermotor. Cakepnya, tak berselang lama setelah sang isteri resign, harga BBM mulai liar. Turun… Naik…. Turun lagi…. Naik lagi…. Meskipun sayangnya fluktuasi tersebut tidak diikuti harga-harga kebutuhan. Untuk yang terakhir ini harga konsisten  naik, ngga turun-turun. Melesat bengis menohok para pemilik kantong tipis. membuat mereka mendadak rajin puasa senin-kemis.

Sikon pekerjaan  Malik pun sudah seperti lantai yang ngeres. Tak enak dirasai, tak nyaman dipijaki, tak nikmat dijalani. Tiap hari jumlah mayat yang masuk juga kian banyak. Sedang jumlah pegawai belum juga ditambah.

Sekarang ia bingung, ibarat kata… kerja segan jobless gak mau. Hidup sungkan, mati apalagi.

Pernah di suatu Kamis malam, ia tersedak menyaksikan barang yang dijaganya, yaitu beberapa kabinet Mortuary atau lemari pendingin penyimpanan mayat, membuka dengan sendirinya secara berurutan dalam hitungan detik. Cabinet no. 12 tiba-tiba terbuka menyodorkan keranda mayat yang kosong, sedetik kemudian tetangganya menyusul tak mau ketinggalan, bedanya cabinet no. 13 ini berpenghuni seonggok jenazah lama. Malik baru hendak menelan ludah menyaksikan itu ketika cabinet no. 44 secara lebih mengagetkan ­ndhelosor keras ‘menyajikan’ kepala mayat seorang lelaki muda yang baru mati tadi pagi ditabrak Truk Thronton. Kain penutup yang ia pasang tadi siang memang kurang panjang bagi jenazah  naas tersebut. Ditutup kepalanya, dua kakinya ngga kebagian. Ditutup kakinya, kepalanya  say hello dengan kondisi yang mengenaskan. Gepeng .

Nah, penghuni No. 44 ini mencelat keluar dengan kondisi yang terakhir.

aneh, padahal tadi yang gw biarin terbuka, kakinya. Bukan kepalanya.”  Gumam Malik berselidik.

Jam baru menunjuk angka 10, tapi shift malam yang ia jalani kali ini tidak biasa. Belum pernah ia setegang sekarang. Harusnya giliran si Sopyan yang jaga malam namun tadi sore rekan kerjanya itu mengabarkan berhalangan masuk. Di tengah perjalanan tadi menuju RS, ia kirim message ke Malik mengatakan tidak bisa lanjut dan  memutuskan pulang.

“Lo kenapa balik?” Tanya Malik menelepon Sopyan.

“Orang rumah manggil, nyuruh gw pulang.Ditelponin terus. Gw rasa ada sesuatu yang penting.” Terang Sopyan.

Kamar jenazah yang berada di lorong paling ujung di Rumah Sakit itu, pintunya menghadap ke halaman belakang dimana terdapat dua pohon asem besar yang sudah tua. Tinggi, dan tentu saja lebat. Di depan pintu, Malik cukup lama bicara dengan Sopyan di sambungan selular. Ia lupa jika rekannya itu harus segera tiba di rumah untuk suatu urusan yang ia sendiri belum tahu.

“Udaah tenaang, gak usah parno gitu. Lo kaya’ baru kerja di kamar mayat aja. Coba cek dulu itu pintu cabinetnya. Siapa tahu emang rusak, segelnya dhol, patah, atau memang lo belum tutup rapat, kalih.”

“gw yakin udah gw tutup-tutupin rapat!”

“ngga…. Soalnya ada beberapa cabinet yang kondisinya emang rusak. Lo tau sendiri hampir semuanya barang lama, kan. Udah bolak-balik dibuka-tutup semenjak nampung mayat-mayat gosong korban kerusuhan Mei ’98 di Yogya Plaza, Klender. inget kan lo!”

“iyaa, hampir seratus persen yang masuk sini dulu korban kebakaran di dalam Mall. Apalagi 3 bulan belakangan ini arus keluar-masuk mayat lagi tinggi.”

“Nah.”

Ingatan Malik pun melayang ke suatu hari yang sarat tragedi di tahun reformasi itu. Ia ingat betul siang itu baru saja menyelesaikan Ebtanas hari terakhir, hari ketiga ujian nasional versi generasi 90-an. Dengan masih  berseragam putih-celana-pendek-biru sedang menunggu Bus arah pulang di jembatan Flyover Klender dalam situasi yang begitu mencekam. Lebih dari 2 jam menunggu namun Bus yang dinanti tak kunjung datang hingga terdengar bunyi dentuman keras tak jauh dari situ.

Setelah itu huru-hara.

Kalo bukan karena dijemput bapak yang udah khawatir akan keselamatan anaknya, mungkin Malik bakal sempet melihat live tumpukan mayat-mayat hangus di pelataran Mall itu… atau terprovokasi untuk ikut menjarah barang-barang di etalase.

“Halo.. halo.. Lik! Malik!” suara keras Sopyan menyadarkan lamunannya.

“KOk diam?”

“Gapapa.”

“Sorry dah bro, jadi ngerepotin. Shift lo jadi manjang.”

“iya gapapa.”

“ngopi dulu laah biar relaks. Jangan tegang gituu kebanyakan pikiran.”

“males ke kantin.”

“ngga harus ke kantin keleus. Biasanya suka ada yang lewat  njajain kopi.”

“sejak gw kerja disini gak pernah ada broooh, penjaja kopi beredar masuk-masuk RS.”

“ADA. Tapi…”

“tapi apa?” Malik penasaran.

“mukanya RATA!” sambung Sopyan tertawa.

“…….” Malik mendesahkan napasnya datar

“Hehe. Nanti juga lo ketemu. ini malam jum’at kan. Suka nongol, dia. Apalagi sekarang Kliwon.” Pungkas Sopyan mengingatkan.

DEGG!

Mendengar itu, secepat kijang buru-buru ia masuk menuju ke dalam untuk menengok kalender meja.

Benar. Malam Jum’at Kliwon.

Bersamaan dengan itu suara di sambungan onAir-nya dengan Sopyan jadi  TUUUT… TUUUT.. TUUT!

Huuft…kebiasaan. Sinyal melempem kalo dah di dalam.”  Gerutu Malik dalam hati.

Hapenya lekas dikantongin. Lantas duduk berusaha melepas tegang dan menyandarkan tubuh di kursi reyot.

Sejenak ia terdiam.  Mata dipejam dan mulai mengatur nafas untuk relaksasi sekadarnya. Ruangan kamar jenazah sebesar dua lapangan tennis indoor itu cukup luas untuk menampung seratusan mayat. Jasad-jasad tak bernyawa disimpan didalam kabinet bertumpuk mirip seperti laci-laci arsip dokumen di perkantoran. 1 kabinet mortuary untuk 1 jasad manusia.

Udara mulai dingin.

Ada yang mengusik pikirannya. Jenazah lelaki naas tadi…

****

Siti kerepotan menghadapi anak-anaknya yang selalu menangis. Berharap sang suami cepat-cepat pulang untuk mengurangi beban hidupnya di rumah.

Kemana bapakmu, nak? Jam segini kok belum pulang.Huh  Keluhnya berupaya mendiamkan anak bungsunya yang tengah menangis. Dua anaknya yang lain baru saja pulas tertidur. Hampir habis energi Siti seharian ini mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga. Untuk si bungsu yang sedang di puk-puk  ia rela menahan kantuk dan lelahnya. Toh setengah keletihan ini akan terhapus dengan kepulangan Malik, yang menurut kebiasaan dan pengamatannya selama menjadi isterinya, akan tiba selambat-lambatnya di rumah beberapa menit lagi. Begitu ikhlasnya ia jalani hidupnya yang kini tak lagi sebagai Isteri paruh waktu, tapi sudah mengabdikan sepenuh waktunya untuk rumah, suami, dan anak-anaknya.

Baru saja si bungsu hendak direbahkan di kasur seiring tangisnya reda,

TOK..TOK..TOKK..!

terdengar ketukan pintu di depan rumah.

Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang juga, mas.

Senyum tipis terbit dari wajah lelahnya, yang walaupun kelihatan berminyak karena keringat tanggung jawab, namun sanggup menyapu kepayahan menjadi ketulusan yang manis. Semanis ekspresinya yang kini harus ia tampilkan di depan mata sang suami.

Ia bergegas ke arah pintu, menyongsong kekasih hati. Meski ucapan Salam yang ia tunggu-tunggu tak kunjung keluar dari lisan si pengetuk pintu. Tetapi memang untuk malam ini sesuatu yang hilang itu tak terlalu dipikirkannya. Sebab ia hanya ingin segera membuka pintu dan dipeluk Malik.

Ada rasa kecewa menyusup ke dalam dada begitu ia intip dari balik tirai jendela, bahwa yang dinantikannya bukanlah sosok yang diharapkan.

Ia nya seorang Lelaki jangkung berwajah gelap berjubah hitam panjang dan memegang tongkat. Betapa kagetnya Siti kini. Bimbang meraja dalam benaknya. Apakah disahuti saja ketukan pintu berikutnya atau biarkan. Sosok lelaki itu begitu asing dan tak pernah ia kenal. Bukan juga warga Kampoeng sini. Bagaimana kalau dia berniat jahat terhadap keluarga kecil yang tengah dilanda ketiadaan sang kepala keluarga ini. Tapi bila diabaikan, maka Siti bakal  kehilangan informasi yang bisa saja hendak disampaikan oleh tamu tak diundang ini. Terkait Malik? Mungkin. Gak mungkin.

TOK.. TOK.. TOKK! Kembali ketukan pintu. yang ini terdengar lebih keras. Seperti jeritan kesakitan. Ia memilih bergeming. Sambil menunggu tamu ini enyah.

Lama tak ada sahutan, Lelaki jangkung berbadan tegap berwajah gelap itu berbalik badan, hendak meninggalkan rumah Malik.

Huft, lega.

Sambil mengelus dada, Siti lekat memandangi dari balik jendela.

Sepersekian detik berikutnya yang terjadi justru diluar dugaan, Lelaki berjubah hitam tersebut membalikkan lagi badannya menghadap pintu dan dengan secepat kilat menyambar gagang pintu berusaha membuka paksa. Suara gagang pintu yang bergerak-bergerak atas paksaan ini serupa jejaring teror yang hendak menyergap jiwa Siti. Ingin dia berteriak tapi tercekat di tenggorokan. Di balik pintu, ia hanya bisa memejamkan mata menahan tangis sambil merapal doa Memohon Perlindungan dari Kejahatan Makhluk.

Ya Allah, lindungi kami malam ini

Tindakan si lelaki misterius  bukannya melunak justru lebih menakutkan, kali ini sudah berani menggedor-gedor pintu. Kian terlihat jelas upayanya membuka paksa pintu dengan mencongkel-congkel rumah kunci. Langkahnya ini tak berhasil, tapi manusia jenis insane yang tengah dihadapi Siti ini bukan orang yang mudah menyerah.. Selanjutnya ia mencoba lakukan hal gila. Ingin memecahkan kaca jendela depan dengan tongkatnya. Satu-dua pukulan tongkat menghantam kaca akan tetapi masih kokoh, hanya bergetar kencang dan menimbulkan suara gaduh. Mengakibatkan pecahnya tangisan bayi di kamar tidur Siti. Ia pun semakin kalut. Betapa ia ketakutan setengah mati menghadapi tekanan mental di saat-saat seperti ini.

Qadarullah, tangisan si bungsu menahan ayunan pukulan ketiga yang hendak dilayangkan ke kaca jendela.  Lelaki jangkung misterius tiba-tiba tertunduk diam. Bagai menyimpan dendam ia menggeram menahan marah.

Tak menunggu lama, ia mundur dan berbalik lalu melesat meninggalkan rumah Malik.

Ya Allah, siapa sebenarnya dia dan mau apa datang ke sini?

Mas, Cepatlah pulang…

(BERSAMBUNG)

TERJEBAK (2)

“WTF!!!” Terkunci. Ia perhatikan seksama keseluruhan pintu, tidak dalam posisi tersegel, juga tidak ada kunci yang menggantung di lubang kuncinya. Rupanya dikunci dari luar. Seperti direncanakan. Batin Inno.

Terjebak dalam kebuntuan. Inno harus cari jalan lain namun mustahil karena satu-dua orang pengejar tentu kini sedang merangsek mencoba melumpuhkannya.

Sementara di ruang tengah café terjadi baku tembak antara Jundi dan orang-orang misterius itu. Pertempuran tidak seimbang itu membuat posisi Jundi benar-benar terpojok. Tak mau berlama-lama berada dalam situasi tertekan, ia melompat dari persembunyiannya dengan terus memberondong peluru sebagai upaya mengcover dirinya sendiri  dan berlari ke arah tangga menuju lantai 2. Ia tak peduli ada atau tidaknya tempat untuk meneruskan persembunyiannya atau minimal tempat berlindung yang lebih aman. Namun yang pasti ia mengingat betul café ini memiliki balkon yang cukup luas di atas.

“DORR.. DORR.. DORR!” Tembakan ke arah Jundi semakin deras tatkala ia hampir sampai di ujung tangga.  di lantai 2 ia langsung mencari posisi aman sementara, kemudian melayangkan pandangan ke arah balkon yang menghadap ke depan jalan raya.

Ia berhenti sejenak memastikan derap langkah musuh di lantai bawah sedang berlari naik ke tangga dan berhitung.

Satu… dua…. Tiga…. Empat…. Dua orang pemburu semakin mendekat.

Ketika dirasa tepat momentumnya maka Jundipun berlari kencang ke arah balkon. Kencang sekali seperti hendak terbang.

Dan memang itulah yang Jundi lakukan. Terbang melompati pagar balkon setinggi pinggang orang dewasa. Dan melayang di udara beberapa detik, ia ber-High Precision Jump, teknik melompat dan mendarat sempurna secara lembut dengan ujung tapak kaki bagian depan serta meredam dorongan Gaya dengan gerakan Front Rolling menutup pendaratan. Terlihat nekat tapi sebenarnya sudah terlatih.

Posisinya sudah sangat bebas untuk kabur namun ia teringat Inno yang sedang menyabung nyawa di dalam,  ia pun kembali masuk café.

Di sudut dapur…

“KAMU HENDRY??!!” Teriak seorang pemburu sambil menodongkan pistol ke arah Inno yang sudah terpojok.  Sementara rekan si penodong menyergap Inno untuk mengamankan pergerakan tak terduga.

Dibawah todongan senjata, Inno dapati bahwa dirinyalah yang menjadi target, bukan Jundi. Orang yang menyergap Inno tadi langsung melakukan penggeledahan. Ketika tangan penggeledah menemukan benda keras yang familiar bentuknya dibalik jaket Inno, tak pelak ia pun berseloroh “Dia bersenjata!”

“AMANKAN!”

“HEYY!!!” Teriakan keras menggema dari koridor yang menuju dapur.

Inno mengenali pemillik suara itu. Sejurus sang penodong tersentak, dan menoleh ke asal datangnya suara. Lalu…

“Jlebbb…Jlebbb.. jlebbb!!!” tiga butir peluru menghantam leher, lengan kiri, dan kaki si penodong pistol.

Kesempatan tersebut tak disia-siakan Inno.

“BEUGGGH!”  Ia langsung menyikut dengan keras ulu hati orang yang menggeledahnya, berbalik badan dan melakukan teknik Gun Disarm untuk merebut kembali SIG-SAUER P226-nya yang sempat berpindah tangan guna menodong balik musuhnya. Semua dilakukan dengan sangat cepat dan halus.

Kini dua sahabat diatas angin. Jundi bersiap menyongsong kedatangan dua orang musuh tersisa di lantai 2 yang mungkin saat ini sedang turun menuju  dapur. Sedang inno fokus menjadikan musuh yang kini digenggamannya, sebagai sandera.

“Jangan buang-buang waktu, bro!” pinta Inno. Lalu ia menunjuk pintu EXIT  dengan dagunya sebagai isyarat bagi Jundi untuk membuka paksa.

Jundi mengangguk setuju. Cukup 2 butir peluru menghujam rumah kunci, pintu pun membuka.

Melihat musuh sudah datang…

Silahkan terus mendekat kalau pengen lihat jeroan otak temen kau nih terburai!!” teriak Inno memberi ancaman.

Akan tetapi dua musuh di ujung koridor itu bukannya berhenti justru semakin berani bergerak mendekat sambil mengarahkan laras senapan membidik kepala Inno yang sebenarnya terlindungi kepala si sandera.

DOORRR!

Arrrrgggghhhhhh!” teriak musuh yang disandera Inno kesakitan karena sebuah peluru menghantam punggung kakinya.

“berani melangkah lagi, kuhabisi nyawanya!” ancaman Inno lebih keras.

“Cepat siapkan mobilmu, Aku akan menyusul keluar!” bisik Inno ke Jundi. Yang dibisiki bergegas keluar menuju mobilnya.

Tak mengendurkan kuncian sandera dan memaksa dua temannya mematung di koridor, Inno melangkah mundur sambil tetap menyandera . Mendekati mobil Jundi yang sudah siap membawanya pergi. Di pintu mobil Inno membalikkan badan musuhnya dan memberinya hadiah.

“ini buat komandanmu!” sembari mengepalkan tinjunya….

“BUUGGGh!” bogem mentah mendarat di rahang kiri musuh.

Inno segera masuk ke dalam mobil, Jundipun memacu kendaraannya melesat meninggalkan ‘arena bermain’.

Di dalam mobil yang sedang melaju kencang…

Inno : Siapa yang mengirim mereka, Jund?

Jundi : Entahlah. Semestinya aku tahu. Tapi sekarang, baiknya kita bersembunyi dulu.

Inno : Kemana kita?

Jundi : Ke tempatku saja. Lebih aman dan Kau tidak harus terbunuh.

Inno : Maksudmu?

Jundi : Bersiaplah, No! Musuhmu ada dimana-mana sekarang.

Inno masih belum mengerti maksud perkataan Jundi. Ia hanya bisa meningkatkan kewaspadaannya saja saat ini. Dan memperhatikan serta meraba hendak kemana mobil ini menuju.  Beberapa saat kemudian ponselnya bergetar. Sebuah pesan diterima dari komandannya, Komarrudin :

“Merapat ke markas, segera! Densus 99 sedang memburumu! Mereka mengirim Jundi Priyono. Pemimpin regu penyergapan terduga teroris beberapa waktu lalu di Dompu sekaligus yang memberi perintah penembakan kepada target ketika sedang sholat Ashar.”

Terlambat. Pikir Inno.

Sejurus kemudian ia melirik Jundi yang terlihat sudah menunggu respon dari karib lamanya itu.

“Baru kali ini aku mendapat lawan yang sepadan. 1 on 1. Kita selesaikan sekarang, Jund? “

Ciiieeetttttt! Jundi mengerem mobilnya tepat di kelokan jalan.

 

“Dengan atau tanpa senjata?”

“Sejak kapan kesatuanmu berani duel tanpa senjata??”

“Sejak aku bergabung, bro. Maaf aku hanya menjalankan tugas operasi penangkapan seorang Hendry Hilmawan, pemuda berbahaya penebar teror di kalangan pejabat tinggi.”

“Cocok! Di dunia ini cuma ada 2 pilihan, Jund!….  Hamba ALLAH atau Hamba Setan. Tak ada pilihan KETIGA.”

Kini, menyongsong duel, hanya ada “Membunuh atau Terbunuh” di dalam benak mereka masing-masing.

-TAMAT-

TERJEBAK (1)

Tampak wajah kelelahan Inno sepulang dari tugas meringkus target buruannya. Sesampainya di rumah, ia tak langsung membuka sepatu. Hanya duduk di teras, memandangi langit, kemudian menghela napas, tatapannya seperti kosong. Malam ini, lagi-lagi,  ia baru saja membunuh orang. Menjadi tangan malaikat Izrail untuk kesekian kalinya.

Tak berlama-lama di situ, terlalu berbahaya bagi seorang agent seperti dirinya. Maka lima menit berselang.. bergegas ia ke dalam. Melepas jaket kulit tebalnya dan menggantungkannya di coat hanger pole . Lalu menyalakan lampu tengah dan menghidupkan pemutar musik.  Diputarnya kemudian instrumen Piano Trio No. 2 nya Franz Schubert menyuguhkan suasana santai, kesunyian,  dan relaksasi pikiran di penghujung  malam.

Secangkir kopi luwak Gayo di tangannya menambah kenikmatan tersendiri, lantas digesernya satu rak buku besar layaknya membuka sliding door untuk mengungkap sebuah dinding rahasia yang seolah menjadi panel misi tugasnya. Berisi daftar petinggi, pengusaha, pejabat negeri, dan orang-orang yang positif mengidap  Islamophobia akut. Terpampang beberapa foto close-up para target, disertai informasi dan peta terkait keberadaan mereka. Sorot matanya mengarah ke foto seorang eks petinggi militer yang dikenal anti-Islam. Dengan tenang dan diliputi sedikit rasa bangga, ia coretkan tanda silang tepat di foto tersebut. 1 target lagi berhasil ditumpas.

Dreett..drett.. dreeeeett..Ponselnya bergetar, ada panggilan masuk. Dari komandannya : Komaruddin.

“Siap, Dan!” jawabnya.

“Dimana posisi?”

“Saya sudah di rumah. Ada infomasi apa, Dan?”

“Siapkan diri untuk pekan depan. Target akan bertandang ke Jogja.”

Mengalirlah percakapan singkat. Bakal ada agenda lagi. Waktu dan informasi lain terkait misi akan ditentukan kemudian.

Belum lagi menyeruput kopi, ponselnya kembali bergetar. Kali ini dari Mawar, kekasihnya. Beberapa saat ia pandangi nama sang pacar di layar. Hanya memandangi. Karena memang tak ingin ia angkat. Inno tahu maksud dari pacarnya menelepon. Menggodanya kembali secara halus. Untuk lalu balikan.

Sejak bergabung jadi prajurit di kesatuan khusus penanggulangan Islamophobia, Inno harus membatasi pergaulannya. Tak bisa sembarangan lagi berkawan dengan sesiapa. Mantannya dilupain, pacarnya diputusin, gebetannya dicuekin,  teman-temannya dipilihin. Bukan menutup pintu pergaulan sosial tapi ia hanya ingin memastikan orang-orang yang ia kenal adalah mereka yang bisa cocok dan syukur-syukur menunjang keberhasilan setiap misi-misinya. Tak mungkin lagi ia bertemankan pribadi ember, tong kosong, munafiqun, dan orang-orang yang gegabah dalam berbicara. Apalagi pengkhianat.

Esoknya, di headline media-media nasional ternama terbit berita kematian seorang mantan Jendral  terkenal, namun diberitakan kematiannya  akibat penyakit jantung yang  dideritanya sepekan belakangan.

Ada yang berusaha menutupi kejadian yang sesungguhnya.

Inno hanya mendengus kecil. “Cocok!.” gumamnya.

Beragam reaksi masyarakat. Banyak yang terkejut, ada yang santai menanggapi karena memang kematiannya konon pas korban sedang mengidap jantung koroner , ada yang biasa aja menanggapi, tak sedikit pula yang diam-diam senang dan merasa puas, umumnya mereka adalah kaum muslimin di republik ini yang sudah lama menanggung derita akibat dari setiap kebijakan, ucapan, tindak-tanduk, serta operasi yang dilancarkan sang Jenderal. Bahkan tak jarang di beberapa kesempatan, kegep pidatonya melecehkan umat Islam. Yang paling menyakiti hati umat tentu saja ketika beberapa waktu lalu ia memberikan pembelaan halus kepada Charlie Hebdo, media internasional asal kota mode yang gemar memuat berita kontroversi dunia termasuk kasus penghinaan lewat penggambaran karikatur Nabi Muhammad SAW.

Suatu hari di luar jam tugas, tanpa diduga Inno bertemu Jundi, karib lamanya sejak di Akademi Militer Magelang. Mereka se-angkatan dan selalu bersama dalam susah dan senang selama menjalani pendidikan.  Mereka berdua menyempatkan mampir di sebuah Kopitiam. Ngobrol  ngalor ngidul namun tetap waspada. Sebagai anggota kesatuan khusus, mereka sudah autopilot untuk tetap waspada kapanpun dimanapun dan dalam situasi apapun, even itu disaat tidur.

Inno : Mmmm… Detasemen 99 ya..  Sudah berapa tahun kau di sana?

Jundi : masuk 2 tahun.

Inno : trus, anak-anak yang lain pada kemana?

Jundi : aku ngga banyak tahu juga bro. selain Agung dan Iqbal yang sekarang jadi Bos bisnis Keamanan, yang lainnya ngga ada kabar.

Inno : Sudah tahu kabar Reza ?

Jundi : Belum. Kau punya informasi tentangnya?

Inno : kemarin di Pasar Santa secara tak sengaja aku bertemu isteri dan anaknya sedang belanja kebutuhan rumah, dia bilang Reza sudah 2 bulan ini ditugaskan ke Sana’a Yaman.

Jundi : haha. kesampaian juga tuh biang kerok jadi tentara bayaran .

Inno : Ya, gabung ke pasukan milisi Houthi, dia. Bantu pemberontak Komite Revolusi.

Jundi : (tersenyum) si Gila Perang.

Inno :  Die Hard-nya kelompok kita dulu. Haha.

Setelah bertukar informasi, mereka bertukar nomor handphone. Jundi terlihat senang sekali. Tawanya lebar.

Kopipun datang disajikan pelayan.

Keduanya lantas menyesap aroma kopi pesanan masing-masing, kemudian menyeruputnya.

Satu dua teguk kopi yang begitu kental memanjakan ujung lidah dan aroma khas caffe late lembut membelai hidung dan pikiran Inno. Ruangan ber-AC dan sofa empuk di sudut ruangan. Nyaman sekali.

Hampir saja itu membuatnya semakin relaks dan mengurangi kewaspadaannya ketika tiba-tiba..

DUOORRR!.. PRAANGGG!” suara tembakan hampir bersamaan dengan suara pecahan kaca.

Sedetik kemudian terdengar suara tembakan susulan yang lebih keras. Seketika cangkir yang dipegang Jundi pecah dihantam peluru liar. Tumpah ruah isi cangkir itu ke sebagian wajahnya dan berciprat ke T-shirt biru mudanya.

“Mereka mengincarmu!” teriak Inno.

“Cepat berlindung!” lanjutnya.

“B**GS*T!” kutuk Jundi dengan nada marah.

Usai memindai arah datangnya tembakan, ia berlari sedikit merunduk ke arah salah satu pojok ruangan yang agak terlindung. Sementara di sudut yang lainnya Inno sudah bersiap melakukan apapun yang ia bisa lakukan untuk memback-up sobat karibnya yang dalam situasi berbahaya itu. Dua sahabat itu kini dalam posisi DISERANG.

Dari luar, tampak beberapa orang berseragam hitam-hitam bersenjata api berlari menyerbu ke arah kedai kopi.

Ini gawat. Pikir Inno.

Ia tatap Jundi di sudut seberang dan melempar ekspresi heran seolah bertanya  mengenai siapa mereka dan mengapa memburu dirinya.  Jundi segera membuka tas ranselnya mengambil sepucuk Beretta M9 untuk perlawanan sekadarnya lalu mengisyaratkan Inno agar bantu mencari jalan keluar lain.

Brakkk! Pintu didobrak orang-orang bersenjata itu.

“Tenang semuanya, kami tidak bermaksud mengganggu kenyamanan anda. Yang tidak bermasalah tidak perlu takut, tetap tenang. “ perintah pemimpin dari orang-orang yang bersenjata itu dengan suara gaduh yang merusak kenyamanan pengunjung lain.

“Kami minta kerjasama dari bapak ibu yang ada disini untuk keluar dulu sebentar, kami sedang memburu seseorang..”

Sebenarnya tanpa dimintapun para pengunjung café sadar ini situasi berbahaya, salah-salah bisa kena tembak peluru nyasar. Tak lama cafépun lengang. Hanya ada orang-orang yang “bertikai”

“DOORR!”

“ADA YANG LARI KE BELAKANG!” teriak salah seorang pemburu selepas menembakkan pistolnya.

Inno yang baru saja berlari menuju dapur kaget dan terheran menyadari sebutir peluru hampir mengenai bahu kanannya. Mengapa pula dirinya ikut jadi target. Siapa mereka sebenarnya?

Just by Instinct, inno berlari menuju dapur  karena  umumnya hampir setiap resto atau café punya pintu lain di belakang sebagai akses keluar-masuk karyawan atau pelayan resto. Benar saja, Dilihatnya sebuah pintu kecil dibelakang dapur bertuliskan EXIT besar-besar.  Ia sambar gagang pintu itu, dan…

Teukk…Teukk..Teukk..!

“WTF!!!” Terkunci.

Bersambung..